Keluarga , sebuah kata yanghangat dan akrab di dengar oleh telinga. Mendengarnya saja sudah bisa membuat kita membayangkan, betapa indah senantiasa berada dalam dekapan keluarga.

Betapa tidak, Seberapa jauh seseorang pergi maupun berkelana, pada akhirnya hanya keluargalah tempat kembalinya. Memiliki seorang Ayah,Ibu,Kakak, dan Adik, bagaikan sebuah bejana berisikan anggur yang apabila semuanya bersatu, lengkap sudah menjadi sebuah kenikmatan yang tak tergantikan. Sejatinya, Keluarga adalah muara segala bahagia dengan rumah sebagai tumpuannya serta kasih sayang sebagai pondasinya dan tentu saja, “pulang” adalah satu satunya jalan menuju  bahagia itu berada. Namun, apa jadinya jika jalan menuju bahagia itu pun tak ditemukan.

Senja tiba, beberapa orang dari anak – anak kecil itu berlarian saling mengejar satu sama lain hingga ada yang kedapatan asyik mengobrol sampai tertawa terbahak bahak. Namun, di antara keceriaan itu, satu diantara mereka tengah duduk melamun menjauh dari semua keramaian yang ada.

7 tahun yang lalu, suatu malam sekitar pukul 02:00 WIB seorang wanita mendatangi asrama Panti Yatim Indonesia yang berada di wilayah Bekasi. Masih lekat dalam ingatan Tomy Irawan pengurus sekaligus kepala asrama.Dia bersama dengan seorang bocah laki-laki yang lucu, Beliau memperhatikan tamunya dengan seksama, tampak jelas dari parasnya yang cantik dan penampilannya yang modis menunjukan kalo dia  orang berada, ia mengenakan pakaian yang cukup mewah begitupun dengan putranya. Setelah mempersilahkannya duduk kemudian bertanya “Apakah ada yang bisa saya bantu?” wanita tersebut menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berbicara air matanya mulai mengalir menceritakan kisah hidupnya yang saat itu tertipa kebangkrutan “ Nama saya Dalinar, saya seorang istri dari pengusaha sukses. Suami saya adalah seorang pebisnis, namanya Jubalaihi. Tetapi kami sudah bercerai dan saya membawa anak-anak saya bersama saya terasuk anak ini, Lima tahun yang lalu saya mengadopsi seorang anak,  dari saudara , Saya dan suami sepakat untuk membawanya pulang.Waktu itu, saya tidak terlalu memperdulikan asal – usulnya. Yang terpenting saya dan suami merawatnya dengan sepenuh hati. apapun kebutuhan dan keinginannya, kami dapat memenuhinya. 2 anak kandung saya pun ikut senang. Katanya mereka menyukai kehadiran adik barunya yang menggemaskan ini. Namun, semua kebahagiaan itu tak berlangsung lama, suami saya bangkrut, semua harta kekayaan dan tabungan habis tak tersisa. Saya takut tak bisa lagi memenuhi kebutuhannya.

Sambil berurai air mata, ibu tersebut mengelus kepala anak kecil yang berada di samping kirinya dengan tatapan nanar dan penuh iba. “saya ingin meminta bantuan, tolong bantu saya untuk merawat anak ini. Didiklah dia agar suatu hari nanti dapat menjadi anak yang mandiri, berprestasi, dan sukses. Namanya Rifqy Akbar, usianya sekarang 5 tahun. Semoga yayasan ini berkenan menerimanya.”

Setelah mendengarkan kisahnya, pak Tomy Irawan memintanya untuk menunggu. Kemudian beliau berkordinasi dengan pimpinan pusat Yayasan Al- Fajr Panti Yatim Indonesia melalui telfon genggam. “melalui pertimbangan dan keputusan pusat, anak ini memenuhi persyaratan untuk bisa tinggal dan menjadi anak asuh kami.  Kesedihannya berubah menjadi tangis bahagia, ia berterimakasih kemudian beranjak dari kursinya dan memeluk Rifqy yang sedari tadi hanya duduk terdiam. Mungkin ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, yang ia ingat hingga saat ini itulah kali terakhir ia bertemu dengan ibu angkatnya dan itu pelukan terakhir pula dari ibunya.  Setelah malam itu, tak pernah lagi ibu Dalinar datang.  Seakan waktu tak memberikanya kesempatan, bahkan hanya untuk mengucapkan “selamat tinggal”.

Tahun demi tahun berlalu, Rifqy tumbuh mejadi anak yang paling berbeda diantara yang lainnya. prilakunya amat manja dan menuntut banyak hal kepada pengurus, namun amat pendiam dan menutup diri dari lingkungan sekitar. Tak hanya di asrama bahkan, di sekolahpun wali kelasnya berkata demikian. Dengan kisah kelam dari masa lalunya itu, membuat semua orang memakluminya tumbuh menjadi anak yang posesif dan tempramental. Mengingat kehidupan asrama tak bisa disamakan dengan kehidupannya dahulu yang serba ada dan mewah. Namun, kami selalu  berusaha untuk menyayanginya dengan sepenuh hati dan memberikannya pendidikan yang layak serta fasilitas yang memadai. Saat ini usianya 12 tahun, ia tengah duduk di kelas 6 SD 01 Tebet Barat, letaknya tak begitu jauh dari asrama.  Sekarang Rifqy sudah berada di asrama putra daerah Tebet Kota Jakarta.

Bagi seluruh umat muslim di di dunia, Idul Fitri adalah moment terbaik untuk berkumpul bersama dengan keluarga. Apalagi untuk anak – anak asuh yang tinggal di asrama, mereka harus menunggu setahun penuh untuk berjumpa dengan sanak saudara di kampung halaman. Maka bulan Ramadhan adalah hari – hari yang paling membahagiakan, menunggu datangnya lebaran.

Suara takbir menggema, memenuhi seluruh penjuru dunia. Seakan semuanya tengah berbahagia menyambut datangnya Hari Raya. Esok adalah Hari Raya Idul Fitri, semua anak – anak terlihat sibuk. Beberapa diantaranya sedang mengemasi barang bawaannya pulang. Beberapa diantaranya lagi sedang bercerita mengenai keluarganya yang ramah dan kampung halamanya yang indah. Semua kisah kerinduan itu menyisakan satu orang yang terdiam, tak ada raut bahagia di wajahnya apalagi kisah mengenai keluarga. Wajahnya terlihat seperti biasanya, acuh tak acuh. ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, Rifqy hanya bisa memilih untuk mengikuti salah satu pengurus atau anak asuh yang mau menampungnya pulang.

Sudah banyak  orang yang bertanya padanya mengenai ayah, ibu, maupun keluarganya. Pernah suatu ketika, saat sesi perkenalan. wali kelasnya memanggil satu persatu murid ke depan. Saat gilirannya tiba, guru itu bertanya “namanya siapa?” “Rifqy” jawabnya. “Rifqy tinggal dimana?” “di panti asuhan” jawabnya lagi, “Orang tua Rifqy ada dimana?” ia menunjuk ke jendela. Dan saat guru tersebut menghampiri arah yang ditunjuknya, ia baru mengerti bahwa mereka yang ditunjuk oleh Rifqy tak lain adalah pengurus panti asuhan.

Saat Tim Sentuh berkunjung ke Tebet. Kami pun bertanya “nama ayah dan ibu Rifqy siapa ?” ia menjawab “gak tau” “Rifqy lahir dimana?”, “gak tau” jawabnya lagi. Dan begitu seterusnya. Kemudian kami mendapat keterangan bahwa, selama ini Rifqy tidak pernah sekalipun menanyakan perihal siapa orang tua, keluarga, maupun ia berasal dari mana. Baginya, panti asuhan adalah rumahnya, para pengurus adalah orang tuanya, dan semua penghuni asrama adalah keluarganya.

Bagaimana ia mampu bahagia? Jika muara segala bahagia adalah keluarga. Jawabnya adalah: Bukankah sesama umat muslim itu bersaudara?, maka inilah gunanya saling “Berbagi”. Hikmahnya adalah agar dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah swt berikan, yang tak semua orang dapat merasakannya. Karna sesunguhnya “Bahagia” adalah milik mereka yang selalu mensyukuri apa yang dimiliki dan tak sibuk menunggu “Bahagia” dari sesuatu yang belum dimiliki.

Bersyukurlah, apabila saat ini kita tengah berada dalam limpahan kasih sayang kedua orang tua dan berada di tengah – tengah kehidupan keluarga yang nyaman dan aman. Karna, Pada kenyataannya jika Bahagia adalah karna “uang”, maka sesungguhnya “uang” tak mampu mengembalikan waktu yang tertinggal jauh di belakang, tak bisa membeli sebuah kasih sayang, dan tak bisa mengembalikan nyawa seseorang yang amat kita kasihi maupun sayangi.