fbpx

Terlahir dengan kondisi serba kekurangan tidak membuatnya berputus asa.
Sejak lahir Wahyudin (21 tahun) warga Kampung Citamiang Rt. 6 Rw. 6 Desa Cangkuang Kulon Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, telah diketahui mempunyai kelainan fisik yang berbeda dengan anak seusianya. Dengan badan kecil dan kurus karena sering sakit-sakitan membuatnya tumbuh tidak sebagaimana perkembangannya.

Saat itu pula kedua orang tuanya telah mengetahui bahwa Wahyudin anak pertamanya mempunyai penyakit epilepsi (ayan). Selain itu Wahyu demikian ia akrab dipanggil, sering step dan kejang hingga tak sadarkan diri jika badannya panas. Orang tuanya yang hanya buruh kasar dengan penghasilan pas-pasan, menjadi penghalang untuk membawanya ke rumah sakit, meski itu hanya sekedar untuk diperiksa saja.

Menjelang usia 7 tahun masuk Sekolah Dasar (SD) tiba-tiba sang ayah yang seharusnya memberi perhatian dan semangat untuk terus maju, pergi tanpa pamit entah kemana. Kondisi tersebut tentunya sangat mempengaruhi jiwa Wahyu.

Namun Wahyu tidak putus asa dan tidak meratapi kepergian sang ayah yang sangat diharapkan kehadirannya. Dengan diantar ibundanya, Wahyu mendaftar masuk Sekolah Dasar. Alhamdulillah sekolahnya tersebut bersedia menerima Wahyu dengan tanpa syarat, meski berasal dari keluarga kurang mampu ditambah dengan keterbatasan fisik dan mental.

Selanjutnya hari-hari bahagia penuh canda dijalani Wahyu bersama teman-teman sebayanya di SD tersebut. Meski Wahyu mempunyai keterbelakangan fisik dan mental, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi teman-teman untuk belajar, bermain dan mengerjakan kesenangan mereka.

Namun kebahagian tersebut tidak berlangsung lama, hanya tiga tahun saja atau sampai kelas tiga, setengah perjalanan yang seharusnya ditempuh masa di Sekolah Dasar. Kondisi fisik dan mental yang tak kunjung membaiklah yang menghentikan kecerian Wahyu dalam mengenyam pendidikan Sekolah Dasar.

Hari-hari selanjutnya Wahyu hanya bermain di rumah bersama ibu dan adiknya. Ibundanya Amanah yang tidak ingin buah hatinya terus tertinggal dalam pendidikan mencoba membesarkan hati Wahyu dengan selalu memberikan cerita-cerita. Meski Wahyu sendiri kesulitan dalam berbicara, namun ibunya yakin dengan bahasa isyarat juga, wahyu akan mampu mendengar hingga bisa memahami cerita-cerita yang disampaikan karena ikatan hati mereka.

Kebahagian bersama ibu tercinta tidak berlangsung lama, sekitar tahun 2003 ibundanya tersayang di panggil Allah SWT untuk selamanya, lantaran sakit kompilkasi. Meski sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit, kematian memisahkan mereka. Kondisi demikian tentu memukul dan seolah menambah beban penderitaan Wahyu. Meski mulutnya tidak mampu mengungkapkan dengan kata-kata, namun raut muka dan linangan air mata telah mampu bercerita tentang kondisi batinnya.

Keberuntungan masih berpihak pada Wahyu, selepas ditinggal ibundanya, masih ada sang nenek yang mau mengasuh, merawat dan menemani hari-harinya. Meski usia sang nenek tidak lagi muda ditambah kondisi fisik yang renta, namun hal tersebut tidaklah menjadi beban sang nenek. Disisa usianya yang kian senja dengan segala keterbatasannya, sang nenek masih mau berbagi perhatian dan kasih sayang dengan cucu tercinta.
Allah SWT Maha Kuasa atas makhluknya, kuasa dalam mempertemukan dan memisahkan hamba-Nya, begitupun dalam kasih dan sayang-Nya. Dua anak manusia yang saling menyanyangi dan berbagi perhatian tersebut, Allah Kuasa memisahkan. Pertengahan 2011 karena sakit tua, sang nenek kembali keharibaan Allah SWT, setelah lebih dari 8 tahun mengasuh dan merawat Wahyu. Suasana batin dan kesedihan raut muka tidak bisa di ceritakan dengan kata-kata.

Sekiranya Wahyu mampu berkata-kata barangkali ia akan bertanya, “Ya Allah mengapa Engkau panggil satu persatu orang-orang yang menyanyangi dan merawatku?, Kini siapa lagi yang bersedia merawat diriku?”. Begitulah sekira bait doa dalam benak Wahyu. Mungkin wajar mengingat ia kini merasa sendiri.

Namun sekali lagi Allah Maha Tahu dan tahu akan kebutuhan hamba-Nya. Sang bibi yang bernama Ai Isa (34) yakni adik dari ibunya Wahyu dengan tegar dan lapang dada bersedia merawat dan mengasuhnya. Hal tersebut Ai lakukan karena adik Wahyu sudah berumah tangga dan enggan merawat sang kakak. Begitupun sang bapak yang sudah di cari-cari namun tak jua ketemu.

“Bagi saya ini (Wahyu) adalah titipan dari Allah, sebuah amanah yang harus kami pikul. Meski secara materi kami sebenarnya tidak mampu. Namun kepada siapa lagi Wahyu harus ikut kalau bukan ke saudaranya”, ujar Ai kepada Mutiara Yatim saat mengunjunginya beberapa waktu lalu.

Sikap bijak Ai juga mendapat dukungan dari sang suami. Meski sang suami hanya berprofesi sebagai pekerja di bengkel sepatu di kawasan Cibaduyut Kota Bandung. Ai sendiri bukannya tanpa tanggungan, ketiga anaknya yang masih kecil-kecil juga membutuhkan perhatian baik kasih sayang maupun materi. Namun ia masih mau berbagi dengan Wahyu dengan mengatur kebutuhan secara pas-pasan.

Kepada Mutiara Yatim Ai pun bercerita bahwa sejak lahir Wahyu sudah mempunyai penyakit yakni sering step, itulah salah satu sebab yang membuat Wahyu tidak bisa bicara. Dengan alasan ekonomi dan biaya berobat, Wahyu juga belum pernah mendapat perawatan medis yang memadai.

“Jangankan untuk berobat ke rumah sakit, untuk makan sehari-hari masih pas-pasan. Kadang malah kurang,”aku Ai.

Upaya untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah juga sudah Ai tempuh. Dirinya juga mengaku sudah mengurus surat-surat hingga ke kelurahan. Namun hinggga kini belum membuahkan hasil. Ai pun tidak banyak berharap lagi. Kemurahan hati dan rasa kemanusian dari tetangga yang sesekali mengirim makanan buat keluarganya terutama Wahyu, sedikit dapat meringankan bebannya. Meski itu tidaklah rutin.

Saat disinggung apakah Wahyu masih mengerjakan shalat?. Ai menceritakan jika dulu ketika masih bisa berjalan, meski dengan terseok, Wahyu rajin ke masjid. Namun sejak lumpuh tiga tahun yang lalu ibadah tersebut hanya dilakukan sesekali sambil duduk.
“Mungkin kalau bisa berjalan dia akan ke masjid. Setiap mendengar adzan terutama hari Jum’at saat melihat orang pergi ke masjid Wahyu suka menangis”, ujar Ai dengan mata berkaca-kaca.

Kondisi fisik lah yang menghalangi untuk bisa shalat berjamaah ke masjid. Ditambah tidak ada yang membantu untuk bisa sampai ke masjid meski hanya digendong. Kalaupun memakai kursi roda, maka tidak ada yang mendorong. Ai sendiri merasa keberatan jika harus mendorong-dorong, lagian anak bungsunya yang baru berusia 3 tahun masih suka minta digendong.

Dengan kehadiran Panti Yatim Indonesia (PYI) dirasa sangat membantu meringankan beban Ai dalam mengurus Wahyu. Sejak dikenalkan dengan PYI lewat seorang relawan tiga tahun yang lalu Ai merasa terbantu. Kini Ai merasa mempunyai semangat untuk terus merawat Wahyu. Ia bersyukur masih ada yang peduli pada keponakannya, meski mereka (para donatur) jauh dan tidak kenal dengan dirinya apalagi Wahyu. Namun Ai merasa ada semangat persaudaraan sesama muslim untuk saling meringankan beban saudaranya yang membutuhkan.

Kepedulian para donatur maupun muzaki yang dititipkan melalui Panti Yatim Indonesia diterima Wahyu setiap bulannya. Selain uang tunai, Panti Yatim Indonesia juga memberikan perlengkapan tidur buat Wahyu. Saat Mutiara Yatim berkunjung ke tempat tinggalnya, dengan riang dan senyum lebar Wahyu menunjukkan sebuah kasur busa merah pemberian PYI. Tak henti-hentinya Wahyu mengumbar senyum seolah ingin mengucap rasa bahagianya.

Sejak setahun yang lalu kasur tersebut telah menjadi alas tidurnya. Menjadi penghangat diantara dinginnya malam. Serta menjadi alas duduk saat siang tiba. Bagi sebagian orang mungkin kasur tersebut kasur sederhana. Namun bagi Wahyu menjadi barang mewah dan sangat berarti.

Sesekali meski dengan menggunakan tangan kirinya, jempolnya seolah ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para donatur. Dengan melambai tangannya seolah ingin berpesan agar kita tidak berhenti berbuat kebajikan kepada sesama meski hanya sedikit. Tangan kirinya pun diangkat (karena tangan kanannya lumpuh) yang mengisyaratkan sebait lantunan doa untuk para donatur.

Dipenghujung perjumpaan dengan Mutiara Yatim, Wahyu meletakkan tangan didadanya sebagai isyarat syukur dan seolah ingin titip salam kepada semua yang peduli. Gumamnya yang serak dengan mimik sedih seakan ingin berucap”, Terima kasih, kapan-kapan main kesini lagi ya”.

Wahyudin telah mengundang kita untuk peduli. Menyediakan hamparan ladang amal tak bertepi. Menawarkan janji Allah bagi siapa saja yang ingin mengharap ridho, menginginkan kebahagian yang hakiki di dunia hingga akhirat nanti. Semoga kita yang dipilih menanam benih amal shaleh tersebut. Amin.

Open chat
Assalamualaikum
ada yang bisa dibantu?