fbpx

Cici Apriyanti masih balita ketika Wiwik, ibunya meninggalkannya untuk selamanya. Saat itu usianya belum genap dua tahun dan masih minum air susu ibu (ASI). Ketika itu ibunya menderita penyakit cukup parah, namun karena tidak ada biaya berobat, ia tidak bisa berobat ke rumah sakit. Kondisi tersebut ia jalani beberapa bulan hingga maut mengakhiri sakitnya.

Yanti, demikian bayi lucu itu akrab di panggil saudara saudaranya, harus rela di asuh sang nenek yang sudah tua. Namun,sang nenek juga hanya sempat mengasuh beberapa bulan karena ia sakit kemudian meninggal.

Selanjutnya perawatan dan pengasuhan yanti di teruskan kakak kakaknya yang sebenarnya tergolong masih remaja. Meski demikian, dengan sabar dan berbekal pengetahuan seadanya tentang merawat balita, mereka tunjukan kasih sayangnya pada adik bungsu tersebut.

Dalam kondisi prihatin, yanti yang seharusnya masih harus minum ASI, Oleh kakak kakaknya hanya diberi air teh manis sebagai penghilang dahaga. Mereka terpaksa lakukan itu karena tidak mampu membeli susu formula.

Keprihatinan yanti dan kakak kakaknya semakin bertambah ketika sang bapak sebagai tulang punggung keluarga ikut menyusul kepergian sang istri karena sakit komplikasi.

Sejak saat itu, Yanti beserta enam kakaknya menjadi anak yatim-piatu. Beruntung dengan di bantu keluarga besarnya, mereka bertekad untuk terus membesarkan dan mendidik yanti hingga besar.

Untuk menopang Ekonomi keluarga, kakak kakaknya yang sudah menginjak dewasa mencoba mengais rezeki dengan berjualan gorengan. Makanan tradisional tersebut mereka jajakan di sekitar rumah hingga tetangga desa. Dengan berjualan mereka mampu menambah pemasukan ekonomi keluarga yanti untuk menopang biaya hidup harian.

Seperti anak seusia pada umumnya, yanti mengisi hari harinya dengan bermain, belajar mengaji di mushola yang tidak jauh dari rumahnya. Dengan kesadaran ala seorang anak, yanti kecil pun turut membantu kakak kakaknya ikut mencari kayu bakar, mencari rumput untuk hewan ternaknya, juga menyapu rumah dan halamannya.

Yanti yang lahir 8 April 2000 di desa cigalumpit, kecamatan soreang kabupaten Bandung tersebut berhasil menghabiskan waktu kecilnya hingga kelas 5 SD di kampung halamannya.

Bagai mendapat sebuah cahaya, dengan di antar saudaranya, yanti di pertemukan dengan Panti Yatim Indonesia (PYI). Hal tersebut terjadi di pertengahan 2012 atau saat menjelang naik kelas 6 SD. Sejak itu yanti menjadi penghuni baru di asrama yatim di kawasan pasteur Bandung.

“Bahagia sekaligus sedih,” ungkap yanti kepada mutiara Yatim saat ditanya perasaan awalnya tinggal di asrama.

Dengan lugu ia menjelaskan, bahagia karena menemukan “ keluarga” baru sekaligus teman teman baru juga tempat tinggal baru, yakni asrama yatim piatu. Sedih karena harus berpisah dengan keluarganya yang jaraknya puluhan kilometer dari tempatnya sekarang.

Namun, Yanti merasa nyaman dan betah bersama teman teman nya tinggal di asrama. Hal ini ia tunjukan dengan penuh keceriaan dalam mengisi hari harinya. Meski tinggal di asrama, yanti tidak merasa harus manja. Ia tetap bersahaja dengan kegiatan hariannya bersekolah, piket, dan belajar mengaji.

Bagi Yanti, kehadiran dan tinggal di asrama Panti Yatim Indonesia (PYI) Bagai menghidupkan kembali cahaya rumah yang hampir padam. Cahaya tersebut mampu menghadirkan keceriaan  dan juga harapan untuk menggapai impiannya. Selain itu dengan cahaya tersebut ia mampu memandang keindahan sekelilingnya.

“Nanti kalau sudah lulus SD saya masih mau tinggal di sini. Mau melanjutkan ke SMP dan SMA,” ungkap yanti yang bercita cita menjadi guru

Saat ditanya motivasinya Ingin menjadi guru, dengan lugu dan kesederhanaan yanti mengatakan, ia ingin berbagi ilmu pengetahuan dan mencerdaskan sesama . ia ingin agar semua orang bisa sekolah,belajar,dan menggali ilmu pengetahuan.

Ilmu sendiri ibarat cahaya yang akan menuntun manusia menapaki jalan hidup sesuai kehendaknya. Dengan ilmu hidup manusia akan terarah dan dengan cahaya manusia mampu terhindar dari jalan kesesatannya.

Kehadiran asrama Panti Yatim Indonesia (PYI) bagai cahaya bagi penghuninya. Cahaya harapan bagi masa depannya, menghadirkan kebahagian dan keceriaan serta menghadirkan semangat kebersamaan dalam menggapai asa.

Kelak penghuninya yang telah mendapat cahaya tersebut akan menyebarkan cahaya (ilmu) bagi sekitarnya, menyiram bibit harapan bagi sesama, seperti yang akan dilakukan Yanti.

Semoga partisipasi kita bersama Panti Yatim Indonesia mampu menjaga nyala cahaya tersebut serta mampu melahirkan ribuan bahkan jutaan cahaya yang akan menyebar dan menerangi bumi ini. Amin!

Dikutip dari majalah Mutiara Yatim Panti Yatim Indonesia – terbit Maret 2013

sumber foto: greenyazzahra.wordpress.com

Open chat
Assalamualaikum
ada yang bisa dibantu?