fbpx

PARA PENABUR BENIH

– Fachmy Casofa –

 

Hidup ini menjadi sederhana kala kita mengerti bahwa semua ini hanyalah tentang kita, haruslah menanam benih di bilangan hari. Kemudian, benih-benih kebaikan itulah yang memberatkan timbangan amal. Benih-benih budi itulah yang melancarkan langkah menuju surga. Sesederhana itu. Hingga kemudian benih itu membesar, menguat, dan mengakar. Membesar dengan buah-buah ranum yang siap dipetik dan dinikmat banyak khalayak; menguat dengan batang kokoh yang tak tergoyahkan dan menjadi sandaran dan naungan dalam aktivitas kebaikan, serta mengakar kuat menghunjam tanah, tak tergoyahkan dari masa ke masa.

Semua memerlukan para penabur benih. Semua membutuhkan para pemondasi pertama. Semua memerlukan para pembangun awal. Perjuangan memang takkan pernah memberikan tanda akhirnya. Akan tetapi, pasti memerlukan para pemantik pertama yang akan menyulutkan perjuangan itu selamanya. Apa yang kita nikmat sekarang adalah benih yang telah ditabur para pendahulu. Harusnya kita menyadari sedari dini, bahwa agar generasi-generasi mendatang bisa menikmat aktivitas kebaikan dan berbagai agenda ketaatan dengan tenang dan lapang, haruslah kita mulai dengan menabur benih kebaikan dan ketaatan sedari sekarang.

Mengambil peran di salah satu ketiga hal tersebut mutlak kita lakukan: menabur, membesarkan, dan menguatkan. Menabur benihnya untuk memberikan pijakan awal inspirasi agar dibesarkan dan dikuatkan, atau hanya membesarkannya saja, atau hanya ikut menguatkannya saja. Semuanya pilihan. Pilihan untuk diambil salah satunya. Bukan pilihan untuk ditinggalkan.

Para penabur benih adalah para pemilik pegorbanan sejati. Dan para pengorban sejati, memiliki keteguhan untuk menyingkir segala halang-rintang dengan caranya sendiri. Kenyataannya, setiap kita pasti memiliki rintangan untuk menuju hidup impian. Rintangan yang benar-benar butuh pengorbanan besar dari kita dan harus terus menerus kita tundukkan. Nah, inilah alasan mengapa kebanyakan orang gagal meraih impian. Mereka enggan membuat pengorbanan yang diperlukan. Dan untuk menutupi keengganan itu, mereka akan dengan sangat cepat menunjukkan rintangan-rintangan yang ada di depan, lalu dengan nelangsanya berkata bahwa rintangan itu sangat sulit dan kelewat besar. Tapi, apapun alasannya, itu hanya menunjukkan satu hal: mereka membiarkan rintangan tersebut menghentikan mereka. Ya, kita semua memiliki rintangan dan masalah. Ini normal. Tapi, apa yang kita lakukan untuk menaklukan rintangan-rintangan itu, itulah yang membedakan orang-orang dewasa dengan anak-anak. Tentu saja, itu tidak akan mudah. Itulah sebabnya di sebut pengorbanan. Itulah sebabnya kebanyakan orang tidak mau, tidak akan, atau tidak mampu melakukannya. Dan tak layak menjadi para penabur benih.

Para penabur benih, adalah mereka yang memiliki visi agung. Ia tak ingin menikmat di saat ini. Akan tetapi, ia ingin melihat generasi selanjutnya menikmat apa yang telah ia tanam. Sebagaimana analisis dari John C. Maxwell yang mengelompokkan orang ke dalam empat tingkatan, yaitu: Pertama, orang yang tak memiliki visi (pengembara). Kedua, memiliki visi tapi tak pernah mengejarnya sendiri (pengikut). Ketiga, memiliki visi dan mengejarnya mati-matian (peraih prestasi). Keempat, memiliki visi, mengejarnya dan membantu orang lain melihatnya (pemimpin). Untuk mengenali keempat karakter orang-orang tersebut, katanya lagi, dapat kita ketahui dengan memperhatikan dari isi pembicaraan, sikap, aktivitas, dan cara berpikir mereka. Orang dalam kelompok pertama biasanya senang menceritakan hal-hal negatif dan sikapnya menjengkelkan. Orang dalam kelompok kedua, bicaranya tanpa isi, kurang bersemangat dalam menjalani hari, lebih banyak mengeluh, dan menceritakan cerita-cerita masa lalunya. Orang dalam kelompok ketiga, lebih senang merancang-rancang masa depan, berpikir positif, aktif, dan senantiasa bersemangat. Orang dalam kelompok terakhir, adalah yang bisa mewariskan kemampuannya tersebut.

Terkisah lewat waris tutur, bahwa ada seorang Jenderal pasukan perang tengah istirahat kala kelelahan dalam perjalanan panjang menuju medan perang. Tanpa disengajainya, Sang Jenderal menduduki seekor semut yang tak jauh dari sarangnya. Semut kaget. Ia marah besar, dan menganggap perbuatan Jenderal sebagai sebuah serangan. Wajar, karena perbuatannya tersebut membuat Si Semut kesakitan.

Si Semut berupaya membalas serangan mendadak tersebut. Ia pun berusaha mencari bagian kulit Sang Jenderal yang tak tertutupi baju, lalu digigitnya dengan gigitan penuh kemarahan. Sang Jenderal, dalam keadaan lelah yang sangat payah, kesakitan sangat digigit oleh semut. Ia marah. Dipitesnya semut. Lalu, diperintahkannya salah satu pasukannya untuk membakar sarang semut yang berada tak jauh dari tempatnya bernaung, karena tak ingin terulang lagi ia merasai kesakitan gigitan semut untuk kesekian kalinya.

Satu aksi Si Semut, berakibat bagi musnahnya sebuah peradaban semut yang mungkin telah berbilang tahun berada di tempat itu. Sebuah keputusan pribadi yang berefek jauh bagi sebuah bangunan masyarakat. Duhai, dari kisah ini kita kemudian mengerti, bahwa keputusan-keputusan amaliyah buruk kita yang bersifat personal, akanlah berefek merantai terhadap apa yang terjadi di sekitar.

Dalam kehidupan, kita takkan pernah bisa menempatkan segala hal hanya dalam pandangan pribadi. Akan tetapi, semua memiliki keterkaitan. Sebuah keterkaitan berantai yang harusnya semakin menyadarkan kita, bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban-Nya. Persis, sebagaimana dalam teori Butterfly Effect dari Edward Lorenz: satu kepakan lembut dari seekor kupu-kupu dapat mengakibatkan badai tornado di tempat lain. Maka, seorang saja yang tamak dunia, yang pelitnya ampun-ampunan, yang jahatnya tidak karuan, akan berakibat pada kehidupan banyak orang dan sangat menderita akibat perbuatannya. Bayangkanlah bila yang demikian berjumlah sepuluh, lima puluh, seratus, atau bahkan seribu. Berapa juta orang yang kemudian hidup menderita akibat perbuatan beberapa gelintir orang saja yang tidak bertanggungjawab itu. Maka, untuk pemimpin yang adil seperti Umar bin Abdul Aziz, orang alim yang beramal seperti Imam Bukhari, serta orang kaya yang dermawan seperti Abdurrahman bin Auf, Allah kemudian memberikan karunia khusus dari-Nya secara luar biasa. Karena satu orang seperti itu yang hidup, juga memberikan kaitan efek kebaikan yang luar biasa bagi kehidupan banyak orang.

Seth Godin menyebut sosok-sosok seperti itu dengan Linchpin, yaitu sosok-sosok yang indispensable atau sosok yang tak tergantikan karena sangat dibutuhkan. Linchpin adalah orang yang dapat mengatasi kekacauan dengan menciptakan ketertiban, serta menciptakan, menghubungkan dan mewujudkan sesuatu menjadi nyata. Inilah orang-orang kreatif yang tak hanya sekadar tahu, tapi juga beraksi. Tak sekadar berilmu tapi juga beramal. Ia beramal baik, maka kemudian ia menciptakan keterkaitan yang baik dengan kehidupan banyak manusia. Seth Godin menyebut bahwa sosok-sosok Linchpin inilah yang akan menjadi figur-figur unggulan di masa mendatang. Yaitu sosok-sosok yang risk taker, imajinatif, kreatif, berani tampil beda, dan berpikir out of box tapi selalu mengeksekusi idenya inside the box; berpikir di luar batas tapi selalu mengeksekusi sesuai dengan kondisi yang terhampar di hadapannya. Mereka menggunakan cara-cara yang tak biasa khas otak kanan. Persis, ketika Daniel H. Pink dalam A Whole New Mind pun menyatakan serupa, bahwa mereka yang berotak kananlah yang akan mampu menghadapi keadaan masa depan.[]

 

 

 

Open chat
Assalamualaikum
ada yang bisa dibantu?