fbpx

Tinggal di Panti Demi Cita-cita

    Awalnya ia tak menyangka bisa tinggal di Panti Yatim Indonesia. Namanya Nuri Komariah,  lahir di Bandung 4 Desember 1994. Katanya, ia anak kedua dari tujuh bersaudara. Sang ayah bernama Aceng Sudrajat yang berprofesi sebagai pedagang serta penjahit  dan Ibunya adalah Dede Kartini Sofa. “Saat ini aku sekolah di MAN Bandung  XII. Sebentar lagi akan ujian, doakan saja biar aku lulus dengan nilai yang baik,” ungkapnya kala ditemui Mutiara Yatim di asrama putri Panti Yatim Indonesia, beberapa waktu lalu.

Sewaktu duduk di kelas IV SD kondisi keluarganya terbilang keluarga tidak mampu, maka Nuri berkeyakinan ia harus berani menentukan sikap untuk tidak tinggal bersama orangtuanya. Tetapi hal itu tentunya dengan seizin orangtuanya. Tinggal di asrama awalnya dari SD kelas IV tahun 2004, merupakan anak yang belum mukin lalu mukim. Perasaannya saat itu tentu saja tidak menentu karena harus jauh dari orang-orang yang dicintainya tetapi tekadnya bulat demi cita-cita maka ia memutuskan hal itu. “Alhamdulillah justru di asrama lebih nyaman daripada di rumah. Terus terang kalau di lingkungan rumah sangat nggak efektif.  Disini lebih diarahkan kepada pendidikan  agama dan diajarkan arti kemandirian,” terangnya..

Tak mengherankan jika kemudian di panti itu segala harus dilakukan dengan sendiri. Dengan aturan yang diterapkan panti, ia berkewajiban untuk piket pagi dan piket sore, dimana ia berkewajiban menyapu rumah, mengepelnya bahkan  terkadang memasak pula untuk makan sehari-hari anak panti.”Ya sebelum sekolah aku harus mengerjakan hal itu dan hal inilah yang membuatku menjadi kerasan karena terbentuk kemandirian. Walaupun terus terang belajar yang kulakukan, kalau tidak malam pasti kulakukan setelah Shalat Subuh,” imbuh Nuri dengan senyum khasnya.

Biarpun tinggal di asrama, tapi prestasinya pantas dibanggakan. Nuri pernah meraih juara Cerdas Cermat antar SD di Mahad Nur Iman, Juara I Cerdas Cermat tingkat SD se-Sukajadi, Kota Bandung, Juara III Pidato Bahasa tingkat SMP, Juara III essay tema Global Warming di Al Azhar Jakarta, peserta Olimpiade Fisika tingkat SMA di ITHB Kota Bandung dan saat ini mencoba mengikuti seleksi undangan penerimaan mahasiswa baru fakultas kedokteran Unpad. “Saya ingin menjadi dokter ahli syaraf. Doakan saja saya bisa diterima di Unpad,” kata Nuri yang pernah duduk di MI Ad-Dimyati, MTS Salafiyah dan sekarang di MAN 1 Kota Bandung..

Nuri menjelaskan pemberian donatur melalui PYI dirasakannya sangat membantu padahal masih banyak anak yang tidak seberuntung dirinya. Diakuinya, hidup di asrama memang jarang bertemu orangtuanya. Biasanya Nuri bisa bertemu setahun sekali saat Lebaran atau orangtuanya kalau sempat waktu menengoknya empat bulan sekali sesuai aturan panti.”Saya justru ingin memotivasi anak yatim lainnya. Pokoknya jangan menyerah. Meskipun kita banyak kekurangan,  insya Allah akan mendapat yang terbaik. Saya ucapkan terima kasih kepada donatur atas bantuannya, dan juga kepada pengelola PYI semoga ikhlas di dalam mengurus para anak yatim,” tegasnya,  walaupun kuliah, katanya insya Allah tetap di asrama, dan selain mendapat bantuan dari PYI soal pendidikannya ia berusaha untuk mendapatkan Program Bidik Misi untuk biaya kuliahnya.

Dengan semangat yang menggebu. Nuri tetap akan terus berjuang untuk bisa mewujudkan cita-citanya, karena itulah yang bisa mengubah kehidupannya. Semoga cita-citamu, tercapai Nuri.***(TIM MUTIARA YATIM)

Open chat
Assalamualaikum
ada yang bisa dibantu?