fbpx

hakekat cinta

HAKEKAT CINTA

Bagian : 2

Oleh : Bachrul Djunaidi Al-Qadry

بسم الله الرحمن الر حيم

 

Alhamdulillahirobbil aalamien

Puja dan puji syukur hanyalah milik Allah Robb alam semesta. Sholawat serta salam marilah senantiasa kita haturkan kepada suritauladan kita baginda Rasulullah S.A.W. beserta keluarganya, Sahabatnya, serta ummatnya yang senantiasa istiqomah  didalam menjalankan syariat-syariatnya dan didalam menghidupkan sunah-sunahnya.

 

Sambungan dari edisi : 1

Cinta kepada Allah adalah cinta yang paling pokok,  bila seseorang telah mencintai Allah maka dia akan senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan apapun yang diperintahkan dan menjauhi apapun yang telah dilarang-Nya, agar mendapat gelar insan yang bertaqwa dan mempunyai kedudukan mulia disisi-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an Surat Al-Hujjurat Ayat : 13

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Pertanyaannya apakah kita sudah mengenal Allah dengan sungguh-sungguh (Ma’rifatulloh)?  Jangankan mengenal Allah dengan sungguh-sungguh. Terkadang dengan diri sendiri pun tidak mengenal, tidak sayang, tidak cinta ! Bagaimana kita bisa cinta kepada Allah dengan baik dan benar, kalau dengan diri sendiri saja tidak kenal ! .

Pada kenyataannya banyak diantara manusia yang lupa diri, sehingga dengan Allah pun lupa, lupa akan perintah-Nya dan lupa akan larangan-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat : 19

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS :59:19)

Cinta dalam bahasa Arab disebut Al-Mahabbah yang berarti kasih sayang. Menurut Abdullah Nashih Ulwan cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan dari kehidupannya. Diantara tanda-tanda cinta ialah rasa kagum/simpatik, berharap, takut, rela dan selalu ingat.

 

Seorang yang beriman sejak memproklamirkan bahwa tiada Illah selain Allah dan beriltizam (komitmen) sepenuh kemampuannya, maka Allah harus menempati posisi tertinggi cintanya. Semua tanda-tanda cinta tersebut selayaknya diberikan kepada Allah. Berupa rasa kagum terhadap kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, mengharap cinta Allah, Rahmat, keridhoan dan ampunan-Nya. Sebagaimana firman-Nya : Katakanlah : “ Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q: 39: 53)

 

Ikhlas menerima ketentuan Allah sepenuhnya, takut kepada Allah, yang menghasilkan sikap sikap menjauhkan diri dari maksiat, serta selalu mengingat Allah, oleh karenanya Allah telah berfirman di Surat: Al-Baqarah ayat : 152

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku.” (QS:2:152)

Dan di ayat yang lain…

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS: 13 : 28)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang  berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS: 63 : 9)

“Dan diantara manusia ada orang-orang  yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”n (QS: 2 : 165)

Cinta muncul karena kesadaran telah menerima anugerah dan nikmat yang besar dari Allah, memahami betapa rasa kasih sayang Allah melingkupi detik-detik setiap kehidupan. Sehingga seorang mukmin amat sangat cintanya kepada Allah dan memiliki hasrat yang besar untuk bertemu dengan-Nya. Refleksi cinta adalah tunduk, patuh, menurut, taat akan perintah Allah dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.

Mahabbatullah (rasa cinta kepada Allah) tidak cukup dengan hanyan menjadi seorang Abid (ahli ibadah), tetapi mewujudkan dalam upaya menegakkan kalimat-Nya/agama-Nya.

Islam merupakan agama fitrah yang juga mengakui adanya fenomena cinta yang melekat sebagai fitrah manusia. Allah telah memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya tentang prioritas dalam cinta. Sebagaimana firman-Nya :

Katakanlah : Jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang fasik”. (QS: 9:24)

Prioritas cinta dapat diklasifikasikan atas  prioritas tertinggi, menengah dan terendah. Berdasarkan ayat diatas, prioritas cinta yang tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan-Nya. Hal ini merupakan konsekuensi  dalam islam. Tak di ragukan lagi bahwa seorang mukmin yang telah merasakan kelezatan iman didalam hatinya akan mencurahkan segala cintanya hanya kepada Allah. Karena ia telah meyakini bahwa Allah-lah yang Maha Sempurna, Maha Indah dan Maha Agung. Tak ada satupun selain Dia yang memiliki kesempurnaan sifat-sifat tersebut. Maka lahirlah kesadaran bahwa hanya ajaran Allah lah yang harus diikuti, serta mempraktekan ajaran-ajaran Allah dengan senang hati, penuh keyakinan dan keimanan. Ia telah yakin bahwa untuk membangun kepribadian yang sempurna dan membina mentalitas manusia hanyalah dengan ajaran Allah yang Maha benar.

Bersambung ke Edisi 3….

 

Akhirul kalam

Ihdinashirothol mustaqim, Shirotholladzinaan amtaalaihim ghoiril maghdzubialaihim waladhoolliien……

Wassalamu’alaikum wrwb.

Bachrul Djunaidi Al- Qadry

Open chat
Assalamualaikum
ada yang bisa dibantu?